Selainsebagai dokumentasi kesejarahan, prangko sering digunakan sebagai media edukasi publik akan kearifan lokal yang tentunya berkaitan dengan terjadinya Bencana Alam. Misalnya saja kisah Suku Tengger dari Jawa Timur. Kisah suku Tengger merupakan salah satu cerita rakyat yang disampaikan secara turun-temurun hingga kini oleh masyarakat Jawa Peristiwaalam bencana longsor ini menyebabkan kerugian yang besar, mulai dari kerusakan rumah, putusnya akses kendaraan, hilangnya harta benda, dan korban jiwa. Karena sangat jarang orang dalam kejadian tanah longsor bisa menyelamatkan diri, itu dikarenakan kecepatan tanah longsor bisa sampai 100km/jam. Ceritarakyat atau dongeng yang berkaitan dengan bencana alam. Implikasi ini adalah bahwa bencana yang berhubungan dengan gerak lempeng seperti gempa dan letusan gunungapi masih bisa terjadi, termasuk yang katastrofik seperti erupsi krakatau atau tambora. Contoh dari bencana alam ini adalah banjir, gempa bumi, gelombang tsunami, gunung meletus DongengYang Berkaitan Dengan Bencana Alam Cerita from dongenganak.site. Sebuah cerita dari bencana alam gunung kelud. Source: temukancontoh.blogspot.com. Beberapa daftar dongeng yang berhubungan dengan bencana alam yang aku ceritakan ulang secara singkat diantaranya. 7 warta tentang bencana alam, longsor, gempa, dan banjir, bahasa sunda. . Medan - Penangkapan ikan mas berukuran jumbo dengan berat 15 kg di Danau Toba, Sumatera Utara, kembali dikaitkan dengan bencana, yakni erupsi Gunung Sinabung. Kenapa ada pihak yang mengaitkan ikan mas jumbo Danau Toba dengan bencana?Antropolog dari Universitas Negeri Medan Unimed, Erond L Damanik, awalnya berbicara tentang mitos ikan mas dalam peristiwa terbentuknya Danau Toba. Dia menyebut selama ini beredar cerita rakyat bahwa terbentuknya Danau Toba berawal dari seorang lelaki yang menangkap ikan mas jadi-jadian."Memang, kalau di dalam salah satu mitologi, terjadinya Danau Toba itu kan soal seorang laki-laki yang menangkap ikan di sungai tapi ikan itu jelmaan ikan mas," kata Erond, Rabu 12/8/2020. Dalam cerita rakyat itu, kata Erond, ikan mas yang ditangkap berbicara saat hendak dipotong. Ikan mas itu disebut mengaku sebagai jelmaan putri yang siap dinikahi jika tidak dipotong."Tiba-tiba, sewaktu dia mau potong, ikan itu tiba-tiba ngomong, 'Aku jelmaan seorang princess. Kalau kamu simpan aku di ruangan yang tidak kamu lihat, dalam tiga hari aku akan menjadi perempuan yang bisa kamu jadikan istri'," kata menyebut, dalam cerita itu, ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita dan menikah dengan pria tersebut. Namun si pria dilarang menyebut dia merupakan jelmaan bejalannya waktu, keduanya disebut punya anak. Nah, saat melihat kelakuan anaknya, si pria ini mengumpat dengan menyebut si anak merupakan keturunan ikan."Si anak kemudian melapor sama ibunya 'betulkah aku anak ikan?' 'Siapa yang bilang?' 'Ayahku'. Kemudian marahlah si ibu ini, pergi dia ke puncak yang paling tinggi di sekitar Samosir dan dia berdoa kepada dewa. Turunlah hujan selama satu minggu dan lama-kelamaan terjadilah Danau Toba itu," video 'Berenang Dekat Ikan Paus Bungkuk, Dua Perenang Terluka'[GambasVideo 20detik] Walau terlihat menakutkan, menceritakan dongeng yang berkaitan dengan bencana alam sebetulnya baik untuk anak-anak. Dongeng semacam itu bisa bikin anak-anak untuk bisa menghargai alam yang ada di sekitar. Sebab, dengan menghargai alam, manusia pun bisa terhindar dari bencana alam. Dongeng semacam itu juga bisa mengajarkan anak-anak tentang nilai kehidupan jangan serakah terhadap harta, serta tidak boleh menghina orang artikel ini, kami bakal tampilkan beberapa contoh dongeng yang berkaitan dengan bencana alam. Siapa tahu bisa menjadi referensi bagi Sahabat yang mau membacakan dongeng untuk anak-anak Sahabat. Beberapa referensi tersebut adalah sebagai berikut!Dongeng Gunung LokonReferensi dongeng pertama adalah Legenda Gunung Lokon. Dongeng dari tanah Minahasa ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Makawalang yang tinggal di Gunung hari, dia diusir dari Gunung Lokon oleh sepasang suami istri bernama Pinontoan dan Ambilingan. Mereka mengusir Makawalang karena merasa lebih layak tinggal di gunung pergilah Makawalang dari Gunung Lokon dengan hati yang sedih. Singkat cerita, Makawalang menemukan sebuah gua yang kelak menjadi tempat tinggalnya yang pun akhirnya tinggal di bagian terdalam gua tersebut. Selama tinggal di sana, Makawalang menancapkan sejumlah tiang besar penyangga tanah. Hal itu dilakukan agar bumi tidak runtuh dan pun juga ditemani kawanan babi hutan selama tinggal di gua tersebut. Sayangnya, babi-babi tersebut sering menggosok-gosokan badan mereka ke tiang-tiang penyangga. Apa yang mereka lakukan itu menimbulkan gempa bumi yang terjadi di seluruh penjuru bumi. Termasuk di gua tempat Makawalang tinggal, serta di Gunung gempa bumi bisa terhenti, Makawalang dan semua warga yang terkena gempa pun mengusir para kawanan babi. Salah satunya dengan memukul tong tong dan meneriakkan kalimat “wangko! tambah hebat lagi”.Dongeng Rawa PeningReferensi dongeng selanjutnya adalah Rawa Pening. Dongeng asal Jawa Tengah ini berkisah tentang seorang ksatria yang dikutuk penyihir akibat sifat iri hatinya kepada sang hari, sang ksatria itu bermimpi bahwa dia akan menemukan seorang wanita yang dapat melepaskan kutukannya. Dan untuk menemukan wanita tersebut, sang ksatria harus berkelana ke sejumlah berkelanalah sang ksatria ke sejumlah tempat. Salah satunya adalah sebuah daerah yang diisi oleh orang kaya. Di sana, sang ksatria dihina oleh orang-orang karena kutukan yang kesal, sang ksatria pun menancapkan sebuah lidi di salah satu sudut daerah tersebut. Lidi tersebut kemudian dilepaskan dan mengeluarkan air dalam jumlah air tersebut menenggelamkan semua warga di sana. Kelak, daerah yang pernah disambangi sang ksatria tersebut akan dikenal sebagai Rawa Situ BagenditReferensi dongeng yang terakhir adalah Situ Bagendit. Dongeng asal Garut ini berkisah tentang seorang wanita yang kaya raya. Sayangnya, wanita tersebut punya sifat pelit dan selalu menumpuk harta bendanya. Dia tak pernah mau menyumbangkan hartanya pada orang lain. Sekalipun orang lain sangat membutuhkannya. Akibat sifat buruknya tersebut, semesta pun memberikannya hukuman berupa musibah banjir tersebut berhasil menenggelamkan sang wanita beserta harta bendanya. Kelak, tempat tenggelamnya sang wanita tersebut akan dikenal sebagai Situ juga Referensi Dongeng Sebelum Tidur yang Cocok untuk Anak Usia 1 - 7 TahunItulah beberapa referensi dongeng yang berkaitan dengan bencana alam. Semoga bisa menjadi referensi untuk Sahabat yang mau membacakan dongeng soal bencana alam kepada anak-anak Anggie Warsito Cerita Rakyat Sumatera Utara yang tersebar luas di masyarakat ini pun kini menjadi bagian dari sejarah yang dapat diambil pelajaran dari ceritanya. Cerita rakyat menyimpan banyak misteri bagi masyarakat meskipun bukti-bukti peninggalan sejarahnya masih dapat dilihat hingga saat ini. Terselip juga pesan moral dari cerita rakyat zaman dahulu untuk kita petik hikmahnya. Apa sajakah cerita rakyat asal Sumatera Utara itu? Berikut kami rangkum untuk kamu. Pada zaman dahulu, di sebuah desa di wilayah Sumatera, hiduplah seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai dan akhirnya bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar. Ternyata ikan tersebut dapat berbicara yang berkata terimakasih telah ditemukan oleh sang petani dan meminta sang petani membawanya agar ia dapat menemani petani tersebut sebagai balas budi karena petani telah menyelamatkannya dari kutukan dewa. Petani itu pun setuju maka jadilah mereka sebagai suami-istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul putri tersebut dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat. Singkat cerita, mereka hidup bahagia dan memiliki seorang anak yang tumbuh sehat dan kuat namun agak sedikit nakal, diberi nama Putera. Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya hingga suatu hari ketika Putera tidak melaksanakan tugas yang diberikan oleh ayahnya saat sedang bermain bola malah mengundang amarah sang ayah hingga akhirnya membuat sang ayah mengumpat seraya berkata anak ikan pada anaknya. Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir. Pesan moralnya adalah, jadilah seorang yang sabar dan bisa mengendalikan emosi. Dan juga, jangan melanggar janji yang telah kita buat atau ucapkan Patung Sigale-Gale Pada zaman dulu, ada seorang raja yang sangat bijaksana yang tinggal di wilayah Toba. Raja ini hanya memiliki seorang anak, namanya Manggale. Pada zaman tersebut masih sering terjadi peperangan antar satu kerajaan ke kerajaan lain. Hingga suatu hari sang raja menyuruh anaknya untuk ikut dalam medan perang yang ahirnya menewaskan sang anak. Sang Raja sangat terpukul hatinya mengingat anak satu-satunya sudah tiada, lalu raja jatuh sakit. Melihat situasi sang raja yang semakin hari semakin kritis, penasehat kerajaan memanggil orang pintar untuk mengobati penyakit sang raja. Dari beberapa orang pintar tabib yang dipanggil mengatakan bahwa sang raja sakit oleh karena kerinduannya kepada anaknya yang sudah meninggal. Sang tabib mengusulkan kepada penasehat kerajaan agar dipahat sebuah kayu menjadi sebuah patung yang menyerupai wajah Manggale, dan saran dari tabib ini pun dilaksanakan di sebuah hutan. Ketika patung ini telah selesai, penasehat kerajaan mengadakan satu upacara untuk pengangkatan patung Manggale ke istana kerajaan. Sang tabib mengadakan upacara ritual, meniup sordam dan memanggil roh anak sang raja untuk dimasukkan ke patung tersebut. Patung ini diangkut dari sebuah pondok di hutan dan diiringi dengan suara sordam dan gondang sabangunan. Setelah rombongan ini tiba di istana kerajaan, Sang Raja tiba-tiba pulih dari penyakit karena sang raja melihat bahwa patung tersebut persis seperti wajah anaknya. Pesan moralnya adalah jangan terlalu sedih berlarut – larut. Putri Hijau Putri Hijau adalah putri raja yang berasal dari Deli Tua, Medan yang masuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Deli. Konon, Putri Hijau diminati raja dari tanah Aceh yang bernama Sultan Mukhayat Syah dan ingin memersuntingnya, namun mengalami hambatan. Ketika Raja Aceh hendak mendatangi Putri Hijau untuk melakukan peminangan, kakak kandung Putri Hijau mengajukan permintaan Sultan Aceh untuk meminangnya namun Putri Hijau menolak lamarannya. Karena inilah Sultan Aceh menjadi marah dan menjadi alasan terjadinya perang antara prajurit Aceh dan Kesultanan Deli. Saat peperangan terjadi, Mamban Khayali yang merupakan kakak Putri Hijau menjelmakan dirinya menjadi sebuah meriam yang dapat menembaki musuh. Saat itu, Mambang Khayali merasa haus, namun dilarang untuk minum karena akan membahayakan kondisinya. Akhirnya karena ia merasa sendi – sendinya lemah karena terus memuntahkan meriam, tubuhnya patah menjadi dua. Kepalanya terpental ke Aceh dan bagian belakangnya tinggal di Deli. Saat Kesultanan Deli kala perang, Putri Hijau akhirnya ditawan dan dibawa ke Kerajaan Aceh. Sebelumnya, Mambang Yazid telah memberikan pesan pada Putri Hijau untuk meminta pada Raja Aceh agar ditempatkan di keranda kaca dan memanggilnya saat Putri Hijau tiba di Kerajaan Aceh. Saat sedang mengadakan upacara penyambutan di tepi pantai kemudian Putri Hijau keluar dari keranda kacanya dan memanggil Mambang Yazid. Tiba-tiba turunlah angin ribut dan hujan lebat disertai halilintar, dan gulungan ombak yang amat dahsyat. Lalu muncullah seekor naga raksasa dari dalam ombak dan langsung menuju ke kapal Sultan Aceh. Kapal Sultan Aceh dihantam dengan ekornya hingga kapal terbelah menjadi dua dan karam dengan segera. Sultan Mukhayat Syah selamat. Dalam keadaan yang kacau itu, Putri Hijau segera kembali ke keranda kacanya sehingga pada waktu ombak menghantam kapal, ia dapat terapung-apung di atas laut. Sang Naga segera meluncur menghampiri keranda itu lalu mengangkatnya dengan kepalanya dan dibawanya ke Selat Malaka. Batu Gantung Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain cantik, Seruni juga tergolong sebagai anak yang rajin karena selalu membantu kedua orang tuanya ketika mereka sedang bekerja di ladang yang hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Suatu hari, Seruni harus bekerja di ladang seorang diri karena kedua orang tuanya sedang ada keperluan di desa tetangga. Ia hanya ditemani oleh anjing peliharaannya yang diberi nama Si Toki. Sesampainya di ladang, Seruni hanya duduk termenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sebenarnya, beberapa hari terakhir Seruni selalu tampak murung. Hal ini disebabkan karena Sang Ayah akan menjodohkannya dengan seorang pemuda yang masih tergolong sepupunya sendiri. Padahal, ia telah menjalin hubungan asmara dengan seorang pemuda di desanya dan telah berjanji pula akan membina rumah tangga. Keadaan ini membuatnya menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa, dan mulai berputus asa akhirnya membuatnya ingin bunuh diri ke Danau Toba. Namun saat berlari, Seruni terperosok ke dalam sebuah lubang yang besar dan terjebak di sana. Sayangnya tak ada yang bisa menolongnya, hingga akhirnya Seruni berkata ingin mati dan ajaibnya dinding – dinding lubang tersebut merapat. Tak lama, datanglah gempa yang menjadikan Seruni terhimpit di dalam lubang tersebut dan tak dapat diselamatkan. Beberapa saat setelah gempa berhenti, di atas lubang yang telah tertutup itu muncullah sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis yang seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Orang-orang yang melihat kejadian itu mempercayai bahwa batu itu adalah penjelmaan dari Seruni dan kemudian menamainya sebagai “Batu Gantung”. Pesan moralnya adalah, jangan berputus asa karena akan berakhir derita. Lau Kawar Pada zaman dahulu kala, tersebutlah dalam sebuah kisah, ada sebuah desa yang sangat subur di daerah Kabupaten Karo, Desa Kawar namanya. Penduduk desa ini umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Hasil panen mereka selalu melimpah ruah. Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lumbung-lumbung mereka penuh dengan padi. Bahkan banyak dari mereka yang lumbungnya tidak muat dengan hasil panen. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka pun bergotong-royong untuk mengadakan selamatan dengan menyelenggarakan upacara adat. Pada hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna-warni serta perhiasan yang indah. Kaum perempuan pada sibuk memasak berbagai macam masakan untuk dimakan bersama dalam upacara tersebut. Pelaksanaan upacara juga dimeriahkan dengan pagelaran Gendang Guro-Guro Aron’ yang merupakan musik khas masyarakat Karo. Pada pesta yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu, seluruh penduduk hadir dalam pesta tersebut, kecuali seorang nenek tua renta yang sedang menderita sakit lumpuh. Tidak ketinggalan pula anak, menantu maupun cucunya turut hadir dalam acara itu. Sang nenek yang merasa ditinggalkan dan tak diperdulikan oleh anak cucunya yang sedang asyik dalam perayaan upacara. Nenek tersebut mengutuk anak-cucunya karena membiarkan ia lemah kelaparan. Tiba-tiba terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat. Langit pun menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit, dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya. Seluruh penduduk yang semula bersuka-ria, tiba-tiba menjadi panik. Suara jerit tangis meminta tolong pun terdengar dari mana-mana. Namun, mereka sudah tidak bisa menghindar dari keganasan alam yang sungguh mengerikan itu. Dalam sekejap, Desa Kawar yang subur dan makmur tiba-tiba tenggelam. Tak seorang pun penduduknya yang selamat dalam peristiwa itu. Beberapa hari kemudian, desa itu berubah menjadi sebuah kawah besar yang digenangi air. Oleh masyarakat setempat, kawah itu diberi nama Lau Kawar’. Pesan moral dari certa ini adalah pandai mensyukuri nikmat, menjauhi sifat durhaka kepada orang tua, dan menyia-nyiakan amanah. Cerita Rakyat Menjadi Originalitas Daerah Setiap daerah di Indonesia memiliki ceritanya sendiri yang menjadi originalitas daerah tersebut. Beredarnya cerita rakyat terkadang kejadiannya sendiri terjadi di luar akal manusia. Terlepas dari itu, cerita rakyat masih dikaitkan dengan ciri khas suatu daerah untuk tetap mempertahankan kebudayaannya, khususnya Sumatera Utara. Itulah beberapa cerita rakyat asal Sumatera Utara. Walaupun secara harfiah tidak dapat dipikir secara logika, namun dari berbagai kisah tersebut kita dapat mengambil setiap pesan moral yang ada agar menjadikan kita pribadi yang lebih baik.***K-02/Adenovina Dalimunthe Klik 2x untuk selengkapnya YOGYAKARTA – Siapa yang masa kecilnya tidak dipenuhi dengan cerita-cerita dongeng? Cerita-cerita rakyat seperti Sangkuriang dan Ratu Kidul rupanya muncul di kehidupan kita bukan secara cuma-cuma, melainkan cerita itu menyimpan pengetahuan mendalam yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Termasuk pengetahuan mengenai lingkungan. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta PW IPM DIY melalui Bidang Apresiasi Seni Budaya dan Olahraga ASBO dan Bidang Lingkungan Hidup LH menggelar sebuah diskusi bertema “Cerita Rakyat untuk Menjaga Bumi Indonesia” dengan subjudul “Edukasi Kultural tentang Ekologi dan Mitigasi Bencana”. Kegiatan virtual ini dilaksanakan pada Ahad malam 9/1 dan dihadiri lebih dari 50 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Narasumber yang diundang pada kegiatan itu ialah Ma’rufin Sudibyo, peneliti kebencanaan di Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong yang juga aktif di Dongeng Geologi. Mengawali materinya, Ma’rufin berbagi fakta penting bahwa, “Gempa bumi dan tsunami adalah bencana paling mematikan dalam dua dasawarsa terakhir terhitung dari tahun 2000.” Namun, bencana-bencana tersebut sudah sunatullah untuk terus terjadi selama lempeng-lempeng terus bergerak. Perulangan tersebut menunjukkan bahwa fenomena alam sebenarnya memiliki pola tertentu yang dapat dibaca dan dianalisis. Oleh karenanya, manusia perlu memahami dan menyesuaikan kondisi-kondisi itu melalui upaya mitigasi sehingga risiko bencana alam dapat diminimalisasi. Menariknya di Indonesia, kejadian-kejadian bencana alam yang terjadi di masa silam kerap terekam dalam cerita tutur yang disampaikan dari generasi ke generasi. Cerita tersebut dapat menjadi salah satu modal untuk melakukan mitigasi. Dalam materinya, Ma’rufin menunjukkan bagaimana cerita legenda seperti Sangkuriang, Batu Klinting, dan juga Ratu Kidul berkemungkinan menjelaskan kondisi alam Indonesia. Detail dalam cerita Sangkuriang rupanya memiliki kesamaan dengan beberapa fenomena alam di Sesar Lembang, Bandung. Interpretasi lain mengatakan bahwa cerita Sangkuriang ini diduga mengandung penjelasan munculnya Tangkuban Perahu. Selain itu, cerita Batu Klinting yang tumbuh di daerah Semarang menggambarkan fenomena alam sebelum munculnya rawa pening. Cerita lain seperti Ratu Kidul pun dapat menjelaskan gempa-gempa megatrust Jawa yang terjadi 400 tahun silam. “Cerita-cerita tadi di satu sisi bisa dianggap sebagai gugon tuhon, cerita yang mengada-ada, bahkan bagi sebagian orang dianggap sebagai syirik. Tapi di sisi lain, bisa jadi itu merupakan sebuah mekanisme dari nenek moyang kita untuk menyampaikan apa yang terjadi saat itu dengan bahasa mereka sendiri, dengan keterbatasan pengetahuan mereka,” jelas Ma’rufin. Kegiatan diskusi itu bukan tanpa kelanjutan. Rencana, PW IPM DIY akan melanjutkannya dengan penyusunan video dongeng yang melibatkan pelajar, sebagai upaya untuk mendorong edukasi kepedulian lingkungan dan mitigasi bencana. Ini dituturkan oleh salah satu panitia, Ahimsa W. Swadeshi, dalam sesi diskusi. Hits 92 ï»żBencana alam selalu menjadi ancaman bagi kehidupan manusia. Meskipun manusia sudah memiliki teknologi yang canggih, tetapi bencana alam masih sering terjadi dan menimbulkan kerugian yang besar. Di Indonesia, banyak cerita rakyat yang berkaitan dengan bencana alam. Cerita rakyat ini mengajarkan manusia untuk menghormati alam dan mempersiapkan diri menghadapi bencana alam. Berikut ini adalah beberapa cerita rakyat yang berkaitan dengan bencana alam. Cerita Rakyat Gunung Merapi Gunung Merapi adalah gunung yang terkenal di Indonesia karena sering meletus. Di Jawa Tengah, terdapat cerita rakyat tentang Gunung Merapi. Konon, Gunung Merapi adalah tempat tinggal dari Kyai Suro, seorang dukun yang memiliki kekuatan gaib. Sebelum meletus, Kyai Suro selalu memberi tanda kepada penduduk sekitar untuk mengungsi. Namun, ada satu keluarga yang tidak mengungsi karena mereka ingin melihat kekuatan Kyai Suro. Akibatnya, mereka tertimbun oleh abu vulkanik saat Gunung Merapi meletus. Cerita Rakyat Banjir Bandang Banjir bandang adalah bencana alam yang sering terjadi di wilayah pegunungan. Di Sumatera Barat, terdapat cerita rakyat tentang banjir bandang. Konon, banjir bandang terjadi karena adanya Ikan Raksasa yang hidup di sungai. Ikan Raksasa tersebut sering merusak sawah dan mengganggu kehidupan manusia. Untuk mengusir Ikan Raksasa, penduduk setempat membuat jebakan dengan menggunakan bambu dan rotan. Namun, jebakan tersebut malah memicu banjir bandang yang menenggelamkan desa mereka. Cerita Rakyat Gempa Bumi Gempa bumi adalah bencana alam yang sangat berbahaya karena sulit diprediksi. Di Aceh, terdapat cerita rakyat tentang gempa bumi. Konon, gempa bumi terjadi karena adanya Ular Naga yang hidup di bawah tanah. Ular Naga tersebut sering merusak tanaman dan mengganggu kehidupan manusia. Untuk mengusir Ular Naga, penduduk setempat membuat patung dari kayu yang menyerupai Ular Naga. Namun, patung tersebut malah memicu gempa bumi yang menghancurkan desa mereka. Cerita Rakyat Tsunami Tsunami adalah bencana alam yang sangat dahsyat karena dapat menenggelamkan seluruh kota. Di Aceh, terdapat cerita rakyat tentang tsunami. Konon, tsunami terjadi karena adanya Ikan Naga yang hidup di laut. Ikan Naga tersebut sering merusak perahu nelayan dan memakan ikan yang diperoleh nelayan. Untuk mengusir Ikan Naga, penduduk setempat membuat perahu dari kayu yang menyerupai Ikan Naga. Namun, perahu tersebut malah memicu tsunami yang menghancurkan kota mereka. Cerita Rakyat Tanah Longsor Tanah longsor adalah bencana alam yang sering terjadi di wilayah pegunungan. Di Jawa Barat, terdapat cerita rakyat tentang tanah longsor. Konon, tanah longsor terjadi karena adanya Raksasa yang hidup di gunung. Raksasa tersebut sering mengganggu kehidupan manusia dengan merusak tanaman dan memakan hewan ternak. Untuk mengusir Raksasa, penduduk setempat membuat patung dari tanah yang menyerupai Raksasa. Namun, patung tersebut malah memicu tanah longsor yang menimbun desa mereka. Cerita Rakyat Angin Topan Angin topan adalah bencana alam yang sangat dahsyat karena dapat merusak bangunan dan menumbangkan pepohonan. Di Sulawesi Selatan, terdapat cerita rakyat tentang angin topan. Konon, angin topan terjadi karena adanya Raja Angin yang hidup di langit. Raja Angin tersebut sering mengganggu kehidupan manusia dengan membuat angin kencang dan hujan lebat. Untuk mengusir Raja Angin, penduduk setempat membuat patung dari kayu yang menyerupai Raja Angin. Namun, patung tersebut malah memicu angin topan yang merusak desa mereka. Cerita Rakyat Kebakaran Hutan Kebakaran hutan adalah bencana alam yang sering terjadi di wilayah yang kering. Di Kalimantan, terdapat cerita rakyat tentang kebakaran hutan. Konon, kebakaran hutan terjadi karena adanya Setan Api yang hidup di dalam hutan. Setan Api tersebut sering membuat api agar hutan terbakar dan mengganggu kehidupan manusia. Untuk mengusir Setan Api, penduduk setempat membuat patung dari kayu yang menyerupai Setan Api. Namun, patung tersebut malah memicu kebakaran hutan yang menghanguskan desa mereka. Cerita Rakyat Puting Beliung Puting beliung adalah bencana alam yang sering terjadi di wilayah yang berdekatan dengan laut. Di Jawa Timur, terdapat cerita rakyat tentang puting beliung. Konon, puting beliung terjadi karena adanya Ikan Belida yang hidup di laut. Ikan Belida tersebut sering membuat puting beliung agar nelayan tidak dapat melaut. Untuk mengusir Ikan Belida, penduduk setempat membuat patung dari kayu yang menyerupai Ikan Belida. Namun, patung tersebut malah memicu puting beliung yang merusak desa mereka. Cerita Rakyat Badai Tornado Badai tornado adalah bencana alam yang sangat berbahaya karena dapat merusak bangunan dan menumbangkan pepohonan. Di Amerika Serikat, terdapat cerita rakyat tentang badai tornado. Konon, badai tornado terjadi karena adanya Dewa Tornado yang mengendalikan angin kencang. Dewa Tornado tersebut sering mengganggu kehidupan manusia dengan membuat badai tornado yang merusak desa mereka. Untuk mengusir Dewa Tornado, penduduk setempat membuat patung dari kayu yang menyerupai Dewa Tornado. Namun, patung tersebut malah memicu badai tornado yang menghancurkan desa mereka. Cerita Rakyat Gelombang Pasang Gelombang pasang adalah bencana alam yang sering terjadi di wilayah pesisir. Di Bali, terdapat cerita rakyat tentang gelombang pasang. Konon, gelombang pasang terjadi karena adanya Ratu Laut yang hidup di laut. Ratu Laut tersebut sering membuat gelombang pasang agar pantai Bali terkenal di seluruh dunia. Untuk menghormati Ratu Laut, penduduk setempat membuat patung dari kayu yang menyerupai Ratu Laut. Patung tersebut dipasang di pantai dan dipercaya dapat menjaga Bali dari gelombang pasang yang merusak. Cerita Rakyat Kekeringan Kekeringan adalah bencana alam yang sering terjadi di wilayah yang kering. Di Jawa Barat, terdapat cerita rakyat tentang kekeringan. Konon, kekeringan terjadi karena adanya Ratu Dara yang hidup di langit. Ratu Dara tersebut sering menahan hujan agar daerah terdekat dengan tempat tinggalnya selalu kering. Untuk memohon hujan, penduduk setempat membuat patung dari kayu yang menyerupai Ratu Dara. Patung tersebut dipasang di sawah dan dipercaya dapat memohon hujan kepada Ratu Dara. Cerita Rakyat Gerhana Matahari Gerhana matahari adalah bencana alam yang sangat jarang terjadi. Di Bali, terdapat cerita rakyat tentang gerhana matahari. Konon, gerhana matahari terjadi karena adanya Raja Surya yang hidup di langit. Raja Surya tersebut sering membuat gerhana matahari agar manusia tidak terlalu bergantung pada sinar matahari. Untuk memohon agar gerhana matahari berakhir, penduduk setempat membuat patung dari kayu yang menyerupai Raja Surya. Patung tersebut dipasang di pura dan dipercaya dapat memohon agar gerhana matahari berakhir. Cerita Rakyat Gerhana Bulan Gerhana bulan adalah bencana alam yang sangat jarang terjadi. Di Bali, terdapat cerita rakyat tentang gerhana bulan. Konon, gerhana bulan terjadi karena adanya Ratu Bulan yang hidup di langit. Ratu Bulan tersebut sering membuat gerhana bulan agar manusia tidak terlalu bergantung pada sinar bulan. Untuk memohon agar gerhana bulan berakhir, penduduk setempat membuat patung dari kayu yang menyerupai Ratu Bulan. Patung tersebut dipasang di pura dan dipercaya dapat memohon agar gerhana bulan berakhir. Cerita Rakyat Gerhana Matahari dan Bulan Gerhana matahari dan bulan adalah bencana alam yang sangat jarang terjadi. Di Bali, terdapat cerita rakyat tentang gerhana matahari dan bulan. Konon, gerhana matahari dan bulan terjadi karena adanya Dewa Langit yang mengendalikan gerhana. Dewa Langit tersebut sering membuat gerhana matahari dan bulan agar manusia tidak terlalu bergantung pada sinar matahari dan bulan. Untuk memohon agar gerhana berakhir, penduduk setempat membuat patung dari kayu yang menyerupai Dewa Langit. Patung tersebut dipasang di pura dan dipercaya Jalan beraspal hancur di Balaroa, Palu Barat, akibat likuefaksi pasca-gempa. Foto Jamal Ramadhan/kumparanTopalu'e. Tanah yang terangkat. Diyakini, kata tersebutlah yang menjadi muasal dari nama Kota Palu. Dikisahkan, daratan yang kini menjadi Kota Palu adalah lempeng yang terendam di lautan. Namun, akibat ribuan gempa dan aktivitas bumi yang luar biasa, Kota Palu terangkat’ ke permukaan. Bukannya tak mungkin. Sebab di bawah Palu adalah sesar paling aktif nomor dua di Indonesia Sesar sepanjang 500 kilometer ini membentang dari Laut Sulawesi, membelah Teluk Palu ke Lembah Koro, dan menjulur hingga Teluk Bone di Sulawesi tersebut aktif hingga saat ini. Jumat 28/9, ia bahkan menggeliat dan meluluhlantakkan Kota Palu. Hingga Minggu 7/10, tak kurang dari orang meninggal Topalu’e bagi orang modern yang berhitung mesin-angka tentu berlebihan. Namun, bagi beberapa suku asli di sekitar Palu dan Donggala, sematan predikat peringatan bagi gempa besar benar adanya. Kearifan Lokal Indonesia dan Mitigasi Bencana Foto Basith Subastian/kumparanNeneng Susilawati adalah salah satu anggota tim Ekspedisi Sesar Palu-Koro. Ia, bersama beberapa peneliti lintas disiplin macam geolog Danny Hilman dan Mudrik Daryono dari LIPI, melakukan penelitian soal Sesar Palu-Koro pada Juli 2018. Berbeda dengan para kompatriotnya, Neneng fokus ke soal sosial-budaya di daerah-daerah yang dilewati Sesar Palu-Koro. Di sini Neneng menemukan bahwa suku-suku asli di Sulawesi Tengah sebetulnya akrab dengan gempa bumi dan tsunami. Sederet gempa dan ombak besar memang tercatat pernah menerjang Kota Palu dan sekitar. Selama seratus tahun terakhir, tak kurang lima gempa dan tsunami telah menelan korban jiwa, yaitu pada Desember 1927 dan 1938 di Teluk Palu, 1968 di Teluk Tambung, dan pada Januari 1996 di Suku Kulawi–yang tinggal menyebar di sekitar Danau Lindu, Dataran Kulawi, Dataran Gimpu, dan sekitar Sungai Koro–menganggap gempa-gempa besar dan tsunami tersebut sebagai bentuk cobaan dan ujian. Bumi menuntut introspeksi dari para pemukimnya. Ini berbeda dengan gempa kecil, yang mereka pandang sebagai pertanda leluhur akan datang untuk memperkuat tulang gempa besar ini, upacara Adat Linu gempa bumi dilakukan. Anggota Suku Kulawi menyelenggarakan pemujaan terhadap Karampua Ntana Penguasa Tanah dan Karampua Langi Penguasa Langit. Tujuannya jelas, sebagai ucapan syukur bagi mereka yang selamat dan memohon perlindungan dari malapetaka kepada kedua penguasa langit-bumi tersebut. Upacara yang sama juga dilakukan saat Desa Bora diguncang gempa 6,2 magnitudo sebulan setelah tsunami Aceh di soal cerita dan kepercayaan yang ditemurunkan, mawas diri masyarakat Kulawi terhadap kehadiran gempa bumi dan tsunami yang secara konstan hadir di kehidupan mereka juga diterjemahkan ke dalam arsitektur bangunan. Rumah adat Lobo. Foto Antara FotoRumah adat masyarakat Kulawi yang bernama Rumah Lobo tersusun dari kayu, rotan, dan punya kaki yang mengangkat tubuh bangunan beberapa meter dari tanah. Tak hanya Kulawi, beberapa adat lain pun memiliki ciri arsitektur serupa. Di Desa Labean, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala, arsitektur rumah warga menyerupai rumah panggung yang sama-sama terbuat dari kayu. Begitu pula rumah Katabak yang berada di pinggir pantai. Satu elemen penting pada Rumah Lobo juga terdapat di rumah Desa Labean dan Rumah Katabak ini, yaitu badan bangunannya yang terangkat oleh tiang-tiang kayu beberapa meter dari cerita yang didapat Neneng dari penyintas tsunami tahun 1968, struktur rumah semacam itu berhasil menyelamatkan mereka. “Saat tsunami, fondasi kayu di bawah dan tiang-tiangnya hancur, tapi bagian rumahnya tidak. Kemudian rumah itu kayak perahu di atas air. Ia terseret sampai sawah dan penghuninya selamat,” ujar Neneng kepada kumparan, Minggu 7/10. Rumah warga di Labean, Kecamatan Balaesang, Donggala. Foto Dok. Neneng Susilawati/Tim Ekspedisi Sesar Palu-KoroSeiring zaman, jumlah rumah macam Lobo dan Katabak, serta yang ada di Desa Labean, terus berkurang. Begitu pula dengan upacara-upacara dan giat adat yang kini tak semeriah dulu, bahkan tak jarang dianggap bertentangan dengan agama. “Tradisi makin lama makin hilang atau menjadi bercampur dengan tradisi para pendatang,” kata Sesar Palu-Koro ia dan timnya sempat terhenti karena kekurangan sponsor. Meski begitu, mereka akan kembali ke Palu untuk melanjutkan penelitian dalam waktu dekat. Cerita rakyat dan pemilihan arsitektur yang turun-temurun, tak tercipta di ruang hampa. Ia berpatokan pada suatu kejadian atau pengalaman di masa lampau yang mendorong masyarakat untuk meneruskan pembelajaran akibat kejadian tersebut kepada generasi setelahnya. Menurut antropolog Universitas Indonesia, Sri Murni, ada beberapa kriteria bagi suatu bentuk budaya bisa disebut folklor. Selain diturunkan minimal ke dua generasi lewat tutur lisan maupun warisan, ia mustilah anonim alias milik kolektif. Ia juga berumus berpola macam cerita rakyat yang biasanya diawali klise, Pada zaman dahulu’.Walau begitu, menurut Sri Murni, ada satu karakteristik lain yang tak kalah penting dari folklor, yaitu, “Punya fungsi buat masyarakat.”Menurut Sri Murni, ada tiga macam bentuk folklor, yaitu lisan, sebagian lisan, dan bukan lisan. Folklore lisan bermacam dari nyanyian rakyat, cerita rakyat, hingga pertanyaan dan ungkapan tradisional. Sementara, sebagian lisan bisa berupa kepercayaan rakyat dan permainan rakyat. “Yang bukan lisan apa? Makanan rakyat, obat-obatan rakyat, sampai arsitektur rakyat. Folklor bukan sebatas nyanyian, bukan sebatas mitos, takhayul. Lebih luas. Ia harus punya fungsi kolektif,” kata Sri Murni saat ditemui kumparan di Kampus UI, Depok, Jumat 5/10.Fungsi kolektif folklor dalam hal kebencanaan tak hanya ditemukan di Palu dan daerah-daerah Sulawesi ujung barat Indonesia, masyarakat Pulau Simeulue mewariskan folklor lisan yang dikenal dengan sebutan Smong. Artinya tsunami. Meski apabila dirunut lebih jauh ke bahasa akarnya, Davayan, smong juga bisa diartikan sebagai bencana’. Masjid di Banda Aceh masih berdiri setelah gempa dan tsunami Aceh. Foto AFP/CHOO YOUN-KONGPada saat gempa bermagnitudo 9,2 terjadi di penghujung tahun 2004 di Aceh, smong yang dinyanyikan dari generasi ke generasi punya andil besar dalam menyelamatkan ribuan warga Pulau Simeulue dari maut. Hafal luar kepala cerita di dalam smong, penduduk lari ke dataran tinggi yang lebih aman. Dari sebuah bencana yang merenggut total 250 ribu jiwa, angka tujuh korban tewas di Simeulue merupakan catatan yang patut mon sao surito, inang maso semona Dengarkan kisah ini, pada suatu hari Manoknop sao fano, uwilah da sesewan Tenggelamlah suatu desa, begitu yang diceritakan Unen ne alek linon, fesang bakat ne mali Diawali dengan gempa bumi, diikuti surutnya air laut Manoknop sao hampung, tibo-tibo maawi Lalu seluruh negeri tiba-tiba tenggelam Ango linon nek malo oek suruk sauli Ketika terjadi gempa dahsyat, diikuti surutnya air laut Maheya mihawali fano me senga tenggi Segera cari tempat yang lebih tinggi Ede smong kahane, turiang da nenekta Tsunami, itulah namanya, yang dikatakan nenek moyang kita Miredem teher ere Ingatlah semua ini Fesan navi-navi da Pesan dan petuah Smong rumek-rumek mo Smong adalah air mandimu Linon uwak-uwak mo Gempa adalah buaianmu Elaik kedang-kedang mo Guntur adalah detakmu Kilek suluh-suluh mo Kilat adalah lampumu Alahae Simeulue Oh SimeulueMenurut naskah akademis berjudul “Smong” as local wisdom for disaster risk reduction yang ditulis oleh Ayu Suciani dan rekan-rekannya dari Universitas Samudra dan Univesitas Syah Kuala pada 2005, akar kemunculan smong bisa ditarik dari peristiwa tsunami di Simeulue yang terjadi pada 1907. Saat itu, gempa bermagnitudo 7,6 melanda Aceh pada 4 Januari 1907. Gempa menyebabkan ombak besar menyapu daratan dan membunuh lebih dari 50 persen penduduk Pulau Simeulue. Peristiwa terjadi pada hari Jumat ketika kebanyakan masyarakat tengah menjalankan ibadah salat tersebut begitu membekas dalam benak masyarakat Simeulue. Ia abadi dalam nyanyian pengingat yang menegarkan para korban tsunami, kemudian turun-temurun disenandungkan para orang tua kepada anaknya sebagai senandung heran masyarakat Simeulue sudah terbiasa untuk lari menuju dataran tinggi apabila merasakan gempa di bawah kaki mereka. Upacara Purnama Kapat di Pura Besakih, Karangasem, Bali. Foto Antara/Nyoman BudhianaFolklor soal kebencanaan juga terekam di Pulau Dewata’ Bali. Bersama dengan pulau-pulau Sunda Kecil lain yang senantiasa terancam oleh Sunda Megathrust yang menjulur dari barat Sumatera ke selatan Nusa Tenggara dan sesar-sesar lokal yang tak kalah berbahaya, Bali juga cukup sering mendapat bencana dari perut yang paling dikenal adalah Geger Bali. Gempa tersebut yang menghantam Pulau Dewata pada 1917 dengan kekuatan 7 magnitudo. Gempa yang berlangsung selama 50 detik itu membuat pura dan bangunan lain rata dengan juga pernah diguncang gempa bumi tahun 1976 berkekuatan 6,5 magnitudo, sekitar 5 kilometer di sebelah selatan pesisir Laut Bali. Peristiwa ini terekam dalam cerita rakyat yang beredar di Bali Utara, yang mengisahkan bagaimana Bukit Umanyar konon awalnya tidak berada di dekat laut.“Dahulu kala bukit itu berjalan menuju laut. Sampai akhirnya seorang pemelihara bebek terhentak dan berteriak, Bukit Umanyar berjalan menuju laut!’,” ungkap Sugi Lanus, pendiri Hanacaraka Society, menceritakan catatan peristiwa gempa 1976 yang terekam dalam lontarnya. Sugi adalah seorang pelestari, peneliti, dan ahli lontar Bali. Kebetulan, ia juga merasakan langsung gempa Bali tahun gempa bumi di Bali dan Nusa Tenggara antara tahun 1973-2013 Foto Dok. Dwiyanti KusumaningrumFolklor soal kebencanaan di Bali tak hanya terekam dalam bentuk cerita lisan. Dalam lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi, folklor dan sikap mawas diri masyarakat Bali terhadap bencana juga mewujud dalam rujukan tata ruang dan bangunan mereka. Naskah tersebut tidak menganjurkan pesisir pantai menjadi permukiman, kecuali untuk fungsi pelabuhan. Selain itu, ada pula local knowledge yang menyebut kosmologi Bali terbagi menjadi tiga hulu kepala, tengah badan, dan tĕbĕn kaki. Bagian tĕbĕn pesisir dikatakan tidak layak huni. Ini sejalan dengan Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi yang mengisyaratkan bahaya gempa bumi dan tsunami yang menjadi eksesnya. Dampaknya nyata dan terjadi kepada dua desa kuno di Bali Timur dan Utara, yaitu Desa Tenganan dan Desa Sidatapa. Dahulu, warga kedua desa tersebut bermukim di pesisir pantai. Mereka lalu pindah ke wilayah tengah dengan alasan mencurigakan’, meski kemungkinan besar untuk menjauh dari daerah pesisir yang memiliki potensi terdampak tsunami lebih besar.“Pesisir secara turun-temurun tidak direkomendasi sebagai tempat permukiman. Hanya desa-desa pemekaran saja yang posisinya di pesisir,” ujar di balik cerita-cerita rakyat yang diturunkan lisan dari mulut ke mulut, tersimpan tujuan di dalamnya.

cerita rakyat yang berkaitan dengan bencana alam